Sabtu, 25 Februari 2017

Cintamu Tak Kumiliki, Namun Cinta-Nya Mampu Kuraih




“kau tidak seperti dulu
Yang kukenali dulu
Rupa hilang seri
Manakah manisnya
Kau tidak seperti dulu
Yang kukenali dulu
Madah tak berlagu
Manakah girangnya”

Malam ini, hujan turun satu demi satu. Tetes-tetesnya membawa senyap yang syahdu. Nada-nada dari penyanyi nasyid asal negeri Jiran, Saujana, mengalun bergema di langit-langit kamarku. Aku duduk di sisi jendela kamar sembari memperhatikan nyanyian ritmis air hujan yang turun dari langit kelam.

Aku teringat kamu, Pelangiku. Mungkin saat ini, lagu Saujana ini tepat kunyanyikan untukmu seandainya saja kau berada dekat dengaku. Aku ingin menyanyikan ini dengan suara falsku, tak apa, siapa tahu kau akan tertawa mendengarkan aku bernyanyi dengan suara yang dipaksakan, bukan?

Sejak mendengarkan kisahmu beberapa waktu yang lalu, juga kelanjutannya yang baru kau ceritakan padaku pagi tadi, rasanya aku ingin sekali berada di sana. Memelukmu erat sebagai kakak dan sahabat, yang meski mungkin tak bisa menjadi penyemangat atau penyembuh luka, setidaknya aku bisa mendengarkanmu dengan setia hingga kau lelah sehingga sesak yang kau pendam akan sedikit demi sedikit berkurang.

Luka?

Ya. Aku tahu, bagaimanapun akhirnya, kisah yang kau alami tetap menoreh luka. Cinta yang kau anggap akan menjadi pelabuhan terakhir, kandas begitu saja untuk ke sekian kalinya. Sementara, cinta itu telah menggoyahkan keteguhan hatimu yang dulu sempat bertahan untuk tidak ingin mengenal cinta sebelum tepat pada waktunya. Pertahananmu menjaga hati hanya untuk cinta yang halal bagi manusia di mata Allah, luruh begitu saja tersebab dia yang mendatangimu dengan pesona dan janji-janji untuk membawa cinta ke tempat di mana cinta mendapat pengakuan negara dan agama, pernikahan.

Apalah daya, semua kandas begitu saja. Sementara cinta sudah terlanjur tercipta.
Tidakkah cinta itu anugrah? Mengapa kehadirannya justru membawa luka? Sehingga cinta selalu dikaitkan dengan patah hati, musibah, trauma dan segala perasaan menyakitkan lainnya. Apakah itu patut disebut cinta, jika hanya mencipta raut galau berkepanjangan?

Sementara itu, seperti pada lirik lagu Saujana tadi. Kutemukan dirimu tak lagi seperti dulu. Cinta yang kau banggakan itu, telah merenggut ceriamu. Hari-harimu yang dulu penuh semangat dan berseri-seri, kini seolah hilang dan berganti dengan raut masam lagi murung. Pelangi yang dulu merona dengan warna-warninya, kini seolah tinggal kelabu. Bagaimana bisa cinta mengubahmu sedemikian rupa, bukan ke arah yang baik namun justru sebaliknya? Bukankah cinta itu indah, katanya?

****

“Langitku, aku harus move on.”

Pesan singkat itu kuterima darimu sepagi ini. Kau kisahkan kembali perjalanan hati yang  sempat menyurutkan langkahmu untuk tegar di jalan hijrah, kau kembali ingin meninggalkan cinta yang belum saatnya.

“Kamu pasti bisa, Pelangi. Terus dekati mereka yang berkontribusi dengan jalan hijrahmu, aku hanya mampu berdoa semoga hatimu dikuatkan, diluluskan dari ujian perasaan yang kini sedang menimpamu.” Balasku singkat.

Kepadamu, Allah. Pemilik segala cinta yang berisi kebaikan di dalamnya, cinta yang kau ridhoi, yang positif membawa perubahan keimanan, dekatkanlah cinta itu kepada kami. Aku tak bisa menyalahkanmu, sebagai Maha Pencipta segala yang ada di muka bumi, kau menciptakan perasaan cinta ini bukan untuk menyakiti setiap hati yang tak mampu mengelak saat ada perasaan asing hadir menghinggapi. Sejatinya, kehidupan memang memerlukan keseimbangan. Perasaan cinta yang fitrah sebagai lawan dari cinta yang jatuh bukan pada tempatnya, seringkali Kau menunjukkan kasihMu lewat kesakitan akan cinta yang salah, yang tak sesuai dengan kriteria cinta positif seperti yang kau siratkan dalam firman-Mu.

Aku ingin bertahan dalam segenap pemahaman tentang cinta yang sesungguhnya, bahwa cinta yang benar adalah yang menggerakkan hatiku untuk mendekati-Mu, bukan sebaliknya. Cinta yang benar adalah cinta yang meningkatkan kecintaanku pada-Mu, bukan justru membuatku semakin menjauhi-Mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir di blog aku dan membaca tulisan-tulisanku......Silakan tinggalkan jejak kamu di kotak komentar di bawah ini ya..........

*Salam Blogger :-)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...