Minggu, 16 April 2017

Kasih Putih Satira - Bagian 4

”Satira, Elang kayaknya mau kesini tuh.” Caca tiba-tiba saja heboh, hampir saja gelas yang sedang dipegang oleh Satira terjatuh karena gerakan tangan Caca yang sedikit menyenggol lengan Satira. Baru saja Satira ingin protes, sosok Elang sudah ada di hadapannya.
“Saya minta maaf soal tadi pagi, ya.”
Satira berusaha bersikap teduh, seolah tak terjadi apa-apa.
“Oh, iya. Ngga ada yang harus dimaafin, kok” Jawabnya acuh.
Elang tersenyum kemudian mengulurkan tangannya di hadapan Satira.
“Elang. Temannya Seno, yang tadi pagi ngga sengaja dengerin kamu nyanyi di telepon.”
Satira dapat merasakan pipinya memerah, entah raut wajahnya seperti apa saat itu. Dia kehabisan ide menjawab kalimat sapaan yang sedikit menyindir itu.
“Ehm, apa ya maksudnya? Kayaknya kamu salah orang, deh.” Satira kikuk, meraih tangan Elang dan meletakkan gelas yang digenggamnya ke tangan Elang kemudian berlalu. Sementara itu, Caca tak tahu sama sekali apa maksud keduanya. Memilih untuk tersenyum kemudian pergi menyusul Satira ke dalam rumah.
Tinggallah Elang berdiri tanpa ekspresi, memandangi gelas kosong yang kini ada di genggaman tangannya.

***

Mengingat masa awal perkenalannya dengan Elang, membuatnya Satira senyum-senyum sendiri. Sejenak kemudian ada sesak yang kembali muncul. Tak bisa dipungkiri, meski sudah 7 tahun berlalu namun seolah baru kemarin ia mengenal sosok Elang, perkenalan yang berujung tumbuhnya perasaan-perasaan yang membuat keduanya menjadi dekat. Beberapa hari setelah pernikahan Mas Seno dan Mbak Ita, Satira kembali ke Jakarta. Di hari sebelum ia berangkat ke Jakarta itulah akhirnya ia berkenalan sungguhan dengan Elang. Elang yang ramah dan memiliki sikap bersahabat, tak hentinya menyapa Satira di setiap ada kesempatan hingga akhirnya Satira pun tidak lagi punya alasan untuk bersikap acuh. Perkenalannya yang diawali dengan kekonyolan keduanya itu menjadi awal dari obrolan-obrolan singkat yang kini terjalin lewat pesan singkat di kotak pesan handphonenya masing-masing sejak keduanya sudah kembali ke rutinitasnya di Jakarta. Tiada hari tanpa ucapan selamat pagi dan seperti alarm, Elang rutin mengiriminya pesan-pesan mengingatkan makan siang atau jaga kesehatan.
Kini saat 7 tahun sudah berlalu, masa-masa itu masih jelas di ingatan Satira. Terlebih jika kenangan itu terus menerus memunculkan masa-masa selanjutnya saat pertemuan-pertemuan yang sengaja mereka atur di sela-sela rutinitas, yang pada akhirnya memunculkan kedekatan bagi mereka. Tak disangka kedekatan itu kemudian menumbuhkan perasaan yang semakin hari semakin subur hingga akhirnya entah siapa yang mengawalinya, sepasang manusia itu seolah mengerti bahwa kedekatan mereka istimewa. Pertemuan demi pertemuan, menjadikan mereka semakin dekat selayaknya sepasang kekasih. Satira menyayangi Elang dengan segenap jiwanya sejak saat itu, hingga kini setelah 7 tahun semuanya berlalu. Meski hubungan mereka pada akhirnya kandas di tahun ketiga setelah kedekatan mereka, namun sosok Elang masih sebagai sosok yang sangat berarti bagi Satira. Hanya saja, ia memendamnya erat seolah segalanya kini baik-baik saja, meski ada kerinduan mendalam yang ia rasakan sendiri saat ingatan tentang Elang datang menghantuinya.
Seperti malam ini, Satira duduk di sisi jendela kamarnya. Sudah dua hari ia di sini, berlibur dan menjenguk Uwak Sari. 7 tahun lalu, di rumah ini ia mengenal Elang. Sepuluh rumah ke sebelah barat dari rumah Uwak Sari, adalah rumah Elang. Tapi, sejak hari pertama ia tiba di sini, tak pernah sekalipun ia melihat sosok itu.
Berbagai pertanyaan tentang dimana Elang? Bagaimana kabarnya? Sibuk apa ia saat ini? Serta berbagai pertanyaan lainnya yang selama ini hanya bisa ia pendam sendiri. Awalnya ia masih bisa bersikap tenang dan tidak terlalu memikirkan, namun berita yang ia dengar dari Uwak Sari pagi tadi sepulang dari pasar, membuat Satira kalang kabut sendiri. Benarkah Elang akan menikah?
Memikirkan itu, tiba-tiba kesedihan datang menghampiri Satira. Bagaimana jika benar, Elang akan menikah? Apakah penantiannya akan menjadi sia-sia? Kemana ia akan membawa perasaannya? Bukankah ia selama ini berkeyakinan bahwa Elang akan kembali? Ah, naif sekali. Satira membenak sendiri. Bukankah dengan jelas ia kemarin meyakinkan Caca bahwa ia baik-baik saja setelah hubungannya dengan Elang kandas? Apakah itu hanya kebohongan-kebohongan yang seolah dibuat hanya untuk berpura-pura tegar? Sementara kini, saat ada kemungkinan lain yang terjadi, kemungkinan bahwa Elang sudah punya kehidupan baru menuju pernikahan, ia hanya bisa sedih sendiri meratapi perasaannya yang tak bisa dibendung lagi.
Satira berjalan menuju tempat tidur, rasanya penat bergelut dengan diri sendiri sepanjang hari ini. Ia ingin terlelap, berharap esok segala perasaan yang membuatnya gusar ini akan sirna. Baru saja Satira berniat memejamkan mata, handphonenya berbunyi. Dengan masih berbaring malas, ia meraih handphone yang ia letakkan di atas meja di sisi tempat tidurnya kemudian membuka pesan singkat yang masuk, dari nomor tak dikenal.
Satira menatap lamat bunyi pesan singkat tersebut, tak percaya.

“Ra, aku mau ketemu kamu. Besok siang, di tempat favorit kita
Aku harap kamu datang.
Elang.”

Satira bangkit dari tempat tidurnya, berkali-kali kembali membaca pesan singkat itu. Benarkah ini Elang? Satira menekan beberapa kali tombol handphonenya kemudian menempelkan benda tersebut ke telinga. Sedetik kemudian, terdengar nada-nada lagu yang tak asing di telinganya.
“...Aku slalu bernyanyi
Lagu yang engkau ciptakan
Kau nyanyikan...”
Lagu itu, lagu yang selama ini menemaninya ketika ia merindukan sosok yang sangat dicintainya bertahun lamanya. Satira semakin penasaran apakah benar Elang yang mengirimkan sms ini.
“Ra, ini aku. Elang”.
Suara nada sambung di seberang sana kini berganti dengan suara yang sangat dikenalinya. Suara yang sangat di rindukannya.
Satira terduduk, seraya mematikan kembali sambungan telepon tersebut.

Terlalu lama rindu ini terpenjara, terlalu lama ia berharap dapat mendengar lagi suara yang sangat menjadi suara kesukaannya itu. Lelaki yang sangat ia tunggu bertahun lamanya. Kini saat suara itu kembali menyapa pendengarannya, Satira hanya mampu terduduk lesu. Tak bergeming sedikitpun.

*bersambung 
#30DWCJilid5
#Day6

Sabtu, 15 April 2017

Kasih Putih Satira - Bagian 3

”Berpasangan kalian telah diciptakan
Dan selamanya kalian akan berpasangan
Bersamalah kalian tatkala Sang Maut merenggut hidup.
Ya, bahkan bersama pula kalian, dalam ingatan sunyi Tuhan.
Namun biarkan ada ruang di antara kebersamaan itu.
Tempat angin surga menari-nari di antara kalian.”

Puisi Kahlil Gibran itu menari-nari di ingatan Satira saat ini. Di hadapannnya, terpampang pemandangan syahdu kisah sepasang kekasih yang dipersatukan oleh Allah. Mbak Ita dalam balutan gaun pengantin putih, anggun dan manis dengan raut bahagia yang tak bisa ditutupinya.
Di sebelahnya, duduk Mas Seno, sang pengantin pria dengan balutan jas warna senada membuat keduanya nampak serasi bak raja dan permaisuri.
Dalam rinai syahdu gerimis kecil di pagi yang telah Allah tetapkan sebagai awal hidup baru bagi sepasang kekasih, penghulu merapal nasehat-nasehat bagi dua jiwa yang akan menjadi pasangan suami istri. Suasana syahdu bercampur haru dan bahagia, berlomba dengan rasa gugup saat Mas Seno mengulurkan tangan untuk berjabat erat dengan ayah dari Mbak Ita, wanita yang akan dinikahinya.
Di benak Satira, semua kepingan cerita yang pernah didengarnya dari Mas Seno seolah berlarian. Ia teringat, betapa bukan hal yang mudah bagi sepupunya itu dalam memilih pasangan hidupnya. Betapa memerlukan waktu bertahun lamanya untuk bangkit dari luka atas pengkhianatan yang pernah dirasakannya dari mantan kekasihnya dulu sebelum ia bertemu dengan sosok Mbak Ita. Perempuan penyabar berhati lembut yang mampu meluluhkan hatinya setelah perjodohan yang berhasil dibangun oleh kedua orang tua mereka.
Satira meyakini, betapa ikatan jodoh itu sudahlah pasti. Takkan terhalangi jika Allah sudah membuat garis yang menghubungkan keduanya. Sesulit apapun Mas Seno berupaya menolak dan mengindari perjodohan tersebut, pada akhirnya mereka bersatu juga di pelaminan. Mbak Ita yang lembut dan penuh perhatian, berhasil menyentuh hati Mas Seno melalui kedekatan emosional yang Mbak Ita berikan bukan hanya pada Mas Seno, melainkan juga pada seluruh anggota keluarga Mas Seno, sehingga tak ada alasan lain untuknya menolak. Seluruh keluarga mengharapkan Mbak Ita menjadi menantu, atas dasar kepercayaan dan nuansa kasih sayang yang ditunjukkan tulus oleh Mbak Ita selama 3 tahun masa perjodohan ini. Luka yang dulu terpendam di hati Mas Seno, perlahan terobati dan berangsur, cinta yang diharapkan akhirnya tumbuh begitu saja untuk Mbak Ita.
“Saya terima nikahnya Ita Setyawati binti Ahmad Syarief dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas 100 gram dibayar tunai.” Lantang, Mas Seno mengucapkan ikrar untuk mendapatkan kekasihnya secara sah.
“Bagaimana, Saksi? Sah?”
Para saksi, semua orang yang menyaksikan serta desau angin dan rintik hujan dari langit seolah serempak mengangguk dan berseru “Sah”.
Ada ribuan rapal doa yang mengalun dari kedalaman hati-hati yang bersaksi hari itu. Ada dua jiwa yang larut dalam tunduk khusyunya doa yang menggema di kedalaman jiwa, mengalir melalui sendi-sendi haru yang berwujud air mata  bahagia di kedua pasang pelupuk mata insan yang sedang khidmat merapal janji setia.
Satira tersenyum, seolah bahagia itu juga miliknya. Ia teringat, kisah-kisah remaja di sekitarnya. Mengucap setia di hubungan yang entah apa namanya, memanggil ayah bunda, mengucap cinta dan sayang semudah kata menjelma. Esoknya putus, saling melempar benci dan saling memaki. Sementara lihatlah dua sosok dihadapannya yang baru saja resmi menyatu dalam hubungan yang diakui oleh negara dan agama. Mereka tersipu malu mengulur tangan untuk bersalaman, namun kebahagiaan dan cinta kasih dari hati keduanya terpancar jelas, nyata.
“Satira, Nduk. Mari sini bantu Uwak siapkan prasmanan untuk tamu-tamu. Dari pada bengong di sini, baper nanti lama-lama lihatin pengantin” Uwak Sari, muncul membuyarkan lamunan Satira. Satira mengangguk dan tersenyum malu, kemudian melangkah mengikuti Uwak ke dapur.
Setelah selesai akad nikah, kedua mempelai menuju ke pelaminan untuk menunggu para tamu dan rekan-rekan undangan datang seperti adat pernikahan pada umumnya. Satira bertugas menjaga meja prasmanan, menjamu para tamu yang datang.
“Satira, kamu dilihatin terus dari tadi tuh sama Elang.”
Satira dan Caca sedang duduk di salah satu kursi tamu, sambil memperhatikan kedua pengantin berfoto di pelaminan ketika Caca membicarakan sosok lelaki itu. Lelaki yang sejak akad nikah baru dimulai tadi sudah berada di tengah-tengah tamu, berbaur bersama keluarga dan rekan-rekan dari Mas Seno dan Mbak Ita.
“Elang? Elang siapa sih?” Satira pura-pura tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Caca.
Caca memang baru saja tiba dari kampus siang ini, ia tidak ikut menghadiri akad nikah sejak pagi karena sedang ada ujian semester. Sehingga tidak tahu tentang insiden telepon yang terjadi tadi pagi dan insiden saat Elang dan Satira membuah seisi rumah panik.

Ya, pagi itu saat semua orang sibuk mempersiapkan segala hal untuk akad nikah Mbak Ita dan Mas Seno, tiba-tiba saja terdengar teriakan keras berasal dari dalam kamar yang dihuni oleh Satira. Kejadiannya bermula saat Satira sedang beristirahat sejenak setelah selesai shalat dhuha, akad nikah akan berlangsung setengah jam lagi. Semua persiapan sudah dilakukan, tinggal menunggu penghulu dan para tamu berkumpul. Satira ingin merebahkan dirinya sejenak sebelum menyaksikan akad nikah, ia menutupi dirinya dengan selimut karena silau matahari dari luar jendela. Saat itulah, tiba-tiba saja ada sosok asing masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi dan kemudian langsung menutup pintu kamar. Awalnya Satira berfikir itu Uwak atau sepupunya yang lain, Satira terkejut saat menyadari sosok itu adalah laki-laki. Seingatnya, dia tak memiliki sepupu laki-laki lain selain Mas Seno. Sementara, Mas Seno tak mungkin masuk ke dalam kamar ini, ia sedang menunggu penghulu sambil berkumpul dengan teman-temannya. Menyadari itu, Satira panik. Terlebih saat dari remang-remang kain selimut yang dikenakannya untuk menutupi diri, Satira melihat sosok lelaki itu mendekatinya. Sementara, sosok yang mendekatinya juga tak mengetahui bahwa ada yang sedang bersembunyi di balik selimut. Perlahan Satira membuka selimut yang membungkus dirinya, di dalam remang ruangan tersebut dua pasang mata bertemu dengan raut muka panik. Keduanya sontak berteriak membuat heboh sejenak sebelum akad nikah diselenggarakan pagi itu.

*bersambung
#30DWCJilid5 #Day4

Kasih Putih Satira - Bagian 2

Suasana pagi hari di desa selalu berhasil membangkitkan kenangan masa kecil Satira. Suara anak-anak kecil bermain di luar rumah, kicau burung di udara dan hiruk pikuk penduduk dengan aktivitasnya. Satira tengah bersiap pergi ke pasar desa, rutinitas yang menyenangkan bagi Satira karena di pasar, dia bisa menemukan hal-hal yang unik, makanan yang sulit dicari di kota. Dengan berjalan kaki, Satira dan Uwak Ina pergi ke pasar dengan menjinjing keranjang belanja.
   “Sekarang, pasar desa sudah banyak perkembangan ya, Wak”
   “Iya, mulai banyak dibenahi. Tapi, tetap saja penuh. Karena setiap hari banyak saja yang datang di jam-jam yang sama. Karena kalau kesiangan sedikit, pasti kehabisan bahan masakan.”
   “Satira, dengar-dengar Elang mau menikah?”
   Satira hampir saja terpeleset mendengar nama itu disebut oleh Uwaknya. Menikah? Elang menikah? Satira membenak sendiri.
   “Aku belum dengar kabar itu, Wak. Sudah lama juga aku tidak mendengar soal Elang” Satira berusaha bersikap setenang mungkin meski jauh di dalam hatinya, ia sangat penasaran dengan kabar itu. Apa benar Elang akan menikah?
   “Uwak juga baru dengar dari gosip-gosip remaja di sini, sih. Biasalah, penggemar Elang itu.”
   “Hahahahaha, Uwak bisa saja. Elang lebih tenar dari artis Korea sih ya di sini.”
   Tawa itu terasa pahit. Percakapan sepulang dari pasar pagi itu menempel di benak Satira hingga beberapa waktu, membuat resah dan pikiran terbang ke awang-awang. Berapa lama ia mengabaikan segala kabar tentang Elang? Kini, ia mendengar Elang akan menikah. Meski kabar itu masih  level kalangan teman-teman remaja di desanya, namun tetap saja Satira terfikir sedalam-dalamnya.
   Elang. Sudah berapa lama sejak saat itu, ya?

                                                               ***

Agustus 2010, 7 tahun yang lalu.
   Matahari pagi belum sepenuhnya muncul di permukaan langit. Adzan subuh baru saja berkumandang namun keriuhan di sebuah rumah di pinggiran desa saat itu sudah terjadi bahkan sejak dua malam belakangan. Di kediaman Uwak telah berkumpul seluruh anggota keluarga. Hari itu, Mas Seno, sepupu tertua Satira akan melangsungkan pernikahannya. Tak terkira kebahagiaan bercampur haru menyelimuti langit-langit rumah. Segala persiapan mulai dari dekorasi, masakan untuk para tamu, hisasan pelaminan dan berbagai keperluan hari pernikahan telah disiapkan dengan matang. Satira sedang duduk bersama dengan Mbak Ita, calon pengantin wanita yang sedang duduk dibangku rias sambil duduk menuruti perintah tukang riasnya.
“Dek, Tira. Mbak Ita bisa minta tolong sama kamu, ndak?”
Mbak Ita yang sedang dirias wajahnya dengan riasan pengangtin itu, tiba-tiba saja berbicara padaku yang sedang asyik memperhatikan wajah ayunya dibalut make up pengantin.
“Oh iya, Mbak Ita. Ada apa, Mbak?”
“Tolong telepon ke temannya Mas Seno. Namanya Elang, dia katanya mau datang dari Jakarta. Mbak nitip souvenir ke dia, coba tolong tanyakan apa dia sudah datang dari Jakarta?”
Aku merasa tidak asing dengan nama itu. Seingatku, Mas Seno pernah beberapa kali menyebut nama Elang saat berbincang denganku setiap kali aku dan Mas Seno curhat-curhatan.
“Elang yang rumahnya nggak jauh dari sini itu kan, Mbak?” Aku bertanya memastikan, iseng.
“Iya, kamu kenal ya dek?”
“Eh, enggak sih Mbak. Cuma pernah dengar namanya saja.”
“Wah, kalau gitu nanti Mbak kenalin, ya. Dia manis, lho. Jomblo pula.” Mbak Ita berseloroh sambil meledek Satira yang bengong tiba-tiba.
“Opo toh, Mbak Ita ini. Mentang-mentang aku jomblo, main kenal-kenalin aja. Nanti kalau baper beneran gimana hayoo..”
“Lhoo, kamu kok serius. Mbak kan Cuma bercanda.” Mbak Ita tertawa terbahak semakin senang karena berhasil meledek Satira yang kini garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
“Ehem. Jangan banyak gerak dulu toh Yayu pengantin, nanti riasanmu berantakan lagi ini.” Mbak Ani  perias pengantin yang sedang sibuk dengan pekerjaannya ikut berseloroh megingatkan Mbak Ita untuk tidak terlalu banyak bercanda selagi dirias.
Selanjutnya Satira yang tertawa terbahak, “Mbak Ita bandel, mau jadi pengantin masih ngeledek aja.”
Mbak Ita mendelik ke arah Satira, sambil mengisyaratkan “jadi mau nolongin aku buat nelepon Elang atau terus mau ngetawain, dek?”
‘Iya, iya. Aku telepon Elang sekarang yaa, Mbak pengantinku.”
Satira beringsut mengambil handphone Mas Seno yang tergeletak di atas meja rias di hadapan Mbak Ita. Sambil duduk di depan jendela kamar pengantin itu, Satira mencari-cari nomor kontak Elang di handphone yang sedang digenggamnya.
Manusia Elang.
Satira tertawa sembari berujar dalam hati. “Ini orang namanya aneh banget. Memangnya dia seganas burung Elang?” Satira bergidik. Jangan-jangan, dia juga bukan pemakan nasi.
“...Aku slalu bernyanyi
Lagu yang engkau ciptakan
Kau nyanyikan...”

“...Kau jadi inspirasiku..
Semangat hidup
Di kala aku sedih, di kala aku senang
Saat sendiri dan ke..”

“Hallooow, siapa ini? Kalau mau nyanyi, jangan sambil nelepon. Berisik!!”
            Satira terkejut mendengar suara di seberang telepon. Sambil menepuk keningnya, ia baru tersadar sejak tadi larut ikut menyanyikan lagu yang ada di nada sambung nomor telepon yang dihubunginya.
            “Emm. Maaf salah sambung.”
            Tuut...tuut. Satira bergegas mematikan sambungan telepon dengan masih berdiri terpaku menahan rasa malu. Sementara di depan meja rias, Mbak Ita tertawa terbahak memperhatikan Satira yang salah tingkah, sejurus kemudia Mbak Ani perias wajah ikut terpingkal. Kali ini tidak ada larangan tertawa karena tugas meriasnya sudah selesai.
            Mbak Ita nampak anggun dengan balutan busana pengantin yang kini sudah terpasang sempurna. Masih tersenyum menatap Satira yang tertegun di hadapannya.
            “Mbak Ita cantik bangeet..ini beneran Mbak Ita?”
            “Memangnya kamu fikir siapaa, dek?”
            “Eh, Mbak. Terus gimana soal souvenirnya. Maaf ya, aku tadi malu. Jadi kututup teleponnya sebelum nanya ke teman Mas Senomu itu.”
            “Hahaha. Iya dek, ndak apa-apa. Tadi kamu asyik nyanyi, sampai ndak sadar Mas Seno masuk ke kamar ini dan ngasih tau Mbak kalau Elang sudah ada di depan membawa souvenir pesananku.”
            “Oh. Hehehe. Masa sih, Mbak. Aku jadi malu.”

            Satira menyeringai malu.


*bersambung
#30DWCJilid5 #Day3

Kasih Putih Satira - Bagian 1

Rintik hujan terdengar syahdu di telinga. Gadis itu, Satira Saraswati namanya, asyik duduk di depan jendela kamar sambil memadukan suara hujan di luar dengan suara merdu Adhitya Sofyan yang menyenandung lembut lewat radio kesayangannya. Sesekali bibirnya ikut bersenandung mengikuti irama lagu, sementara pandangannya sampai pada sebuah bingkai foto yang ia letakkan di atas meja belajar bersama tumpukan buku-buku Accounting miliknya.

Kamis, 02 Maret 2017

Sebuah Seruan ; Gerakan Indonesia Membaca



Kenapa membaca?
Katanya, membaca adalah jendela untuk melihat dunia. Bisa dibayangkan, dunia luas yang terdiri dari macam-macam budaya, adat dan segala keunikannya dianalogikan dapat dilihat oleh jendela bernama membaca. Sebegitu luasnya manfaat membaca seluas dunia dan seiisinya.

Membaca sendiri bisa dikategorikan dengan apa saja. Buku-buku sejarah atau riwayat tradisi kota-kota tertentu mungkin yang jelas memuat informasi menarik tentang negara-negara di seluruh dunia, bahkan novel-novel indonesia sekarang sudah banyak yang memuat keunikan negara-negara tertentu, mulai dari musimnya atau tempat-tempat seru di negara tersebut yang mungkin tidak bisa kita lihat, namun dapat kita bayangkan saat membaca ulasannya di sebuah tulisan atau buku.

Berangkat dari pemikiran yang didapatkan dari pengalaman pribadi saya sebagai pelaku gemar membaca, keinginan untuk mengajak orang-orang untuk senang membaca tentu bukan hal yang tak mungkin. Dulu semasa kuliah, saya selalu memprovokasi teman-teman saya untuk membaca dengan cara meminjamkan buku-buku bacaan. Kebanyakan dari mereka, lebih senang novel-novel tapi itu bukan masalah, karna seperti yang saya bilang tadi bahwa novel-novel juga berisi pengetahuan yang menarik, jika pembacanya mampu melihat dari sudut pandang yang lebih luas.

Tentu, sudah banyak gerakan-gerakan sosialisasi membaca di Indonesia. Namun sayangnya, hal tersebut belum tersebar meluas terutama ke pelosok-pelosok desa, di sudut-sudut indonesia.

Saya punya mimpi, suatu hari nanti dapat membuat ladang amal berupa taman bacaan di desa saya, Desa Japura, Cirebon. Membayangkan anak-anak kecil berkumpul di taman bacaan, membaca buku-buku yang sesuai dengan usianya hingga bertambah wawasan dunia luar, pasti itu sangat menarik. Bagi saya yang sejak kecil merantau di kota orang, tentu saja mimpi-mimpi yang saya punya tetap diperuntukkan bagi desa tercinta.

Berat ya, ulasannya? Untuk seorang kecil seperti Anna Pryana ini kok ya mikirnya jauh banget. :)
Bagi saya, mimpi-mimpi kecil adalah mimpi yang dirawat sejak ia bertunas di hati. Ia harus tumbuh berkembang sampai batas mimpi kecil itu terpenuhi, saat mimpi kecil itu terpenuhilah maka ia layak untuk diperhitungkan untuk jadi mimpi besar. Jadi, saya yang kecil ini juga sudah tentu wajib punya mimpi besar bukan?

Mimpi besar saya ini bukan milik sendiri. Tapi, jadi milik banyak orang.
Saya yakin, tidak hanya saya yang sedang berupaya mewujudkan mimpi "Indonesia Membaca" ini lebih meluas. Tapi kamu juga, kan? Iya, kamu. :)
Jadi, mari ikut saya. Ikut ambil bagian untuk gerakan membaca indonesia. Saya sedang merencanakan program Komunitas Berbagi Buku. Komunitas ini sebagai wujud upaya saya mensosialisasikan Gerakan Indonesia Membaca, mewujudkan Indonesia lebih baik dengan membaca.

Saya sangat mengharapkan partisipasi dari teman-teman muda Indonesia untuk program ini. Jika teman-teman berkeinginan yang sama, punya minat dan mimpi yang sama. Saya sangat menunggu pesan singkat teman-teman di komentar tulisan ini. Selanjutnya mari, kita dukung bersama untuk berjalannya program ini.

Sabtu, 25 Februari 2017

Cintamu Tak Kumiliki, Namun Cinta-Nya Mampu Kuraih




“kau tidak seperti dulu
Yang kukenali dulu
Rupa hilang seri
Manakah manisnya
Kau tidak seperti dulu
Yang kukenali dulu
Madah tak berlagu
Manakah girangnya”

Malam ini, hujan turun satu demi satu. Tetes-tetesnya membawa senyap yang syahdu. Nada-nada dari penyanyi nasyid asal negeri Jiran, Saujana, mengalun bergema di langit-langit kamarku. Aku duduk di sisi jendela kamar sembari memperhatikan nyanyian ritmis air hujan yang turun dari langit kelam.

Aku teringat kamu, Pelangiku. Mungkin saat ini, lagu Saujana ini tepat kunyanyikan untukmu seandainya saja kau berada dekat dengaku. Aku ingin menyanyikan ini dengan suara falsku, tak apa, siapa tahu kau akan tertawa mendengarkan aku bernyanyi dengan suara yang dipaksakan, bukan?

Sejak mendengarkan kisahmu beberapa waktu yang lalu, juga kelanjutannya yang baru kau ceritakan padaku pagi tadi, rasanya aku ingin sekali berada di sana. Memelukmu erat sebagai kakak dan sahabat, yang meski mungkin tak bisa menjadi penyemangat atau penyembuh luka, setidaknya aku bisa mendengarkanmu dengan setia hingga kau lelah sehingga sesak yang kau pendam akan sedikit demi sedikit berkurang.

Luka?

Ya. Aku tahu, bagaimanapun akhirnya, kisah yang kau alami tetap menoreh luka. Cinta yang kau anggap akan menjadi pelabuhan terakhir, kandas begitu saja untuk ke sekian kalinya. Sementara, cinta itu telah menggoyahkan keteguhan hatimu yang dulu sempat bertahan untuk tidak ingin mengenal cinta sebelum tepat pada waktunya. Pertahananmu menjaga hati hanya untuk cinta yang halal bagi manusia di mata Allah, luruh begitu saja tersebab dia yang mendatangimu dengan pesona dan janji-janji untuk membawa cinta ke tempat di mana cinta mendapat pengakuan negara dan agama, pernikahan.

Apalah daya, semua kandas begitu saja. Sementara cinta sudah terlanjur tercipta.
Tidakkah cinta itu anugrah? Mengapa kehadirannya justru membawa luka? Sehingga cinta selalu dikaitkan dengan patah hati, musibah, trauma dan segala perasaan menyakitkan lainnya. Apakah itu patut disebut cinta, jika hanya mencipta raut galau berkepanjangan?

Sementara itu, seperti pada lirik lagu Saujana tadi. Kutemukan dirimu tak lagi seperti dulu. Cinta yang kau banggakan itu, telah merenggut ceriamu. Hari-harimu yang dulu penuh semangat dan berseri-seri, kini seolah hilang dan berganti dengan raut masam lagi murung. Pelangi yang dulu merona dengan warna-warninya, kini seolah tinggal kelabu. Bagaimana bisa cinta mengubahmu sedemikian rupa, bukan ke arah yang baik namun justru sebaliknya? Bukankah cinta itu indah, katanya?

****

“Langitku, aku harus move on.”

Pesan singkat itu kuterima darimu sepagi ini. Kau kisahkan kembali perjalanan hati yang  sempat menyurutkan langkahmu untuk tegar di jalan hijrah, kau kembali ingin meninggalkan cinta yang belum saatnya.

“Kamu pasti bisa, Pelangi. Terus dekati mereka yang berkontribusi dengan jalan hijrahmu, aku hanya mampu berdoa semoga hatimu dikuatkan, diluluskan dari ujian perasaan yang kini sedang menimpamu.” Balasku singkat.

Kepadamu, Allah. Pemilik segala cinta yang berisi kebaikan di dalamnya, cinta yang kau ridhoi, yang positif membawa perubahan keimanan, dekatkanlah cinta itu kepada kami. Aku tak bisa menyalahkanmu, sebagai Maha Pencipta segala yang ada di muka bumi, kau menciptakan perasaan cinta ini bukan untuk menyakiti setiap hati yang tak mampu mengelak saat ada perasaan asing hadir menghinggapi. Sejatinya, kehidupan memang memerlukan keseimbangan. Perasaan cinta yang fitrah sebagai lawan dari cinta yang jatuh bukan pada tempatnya, seringkali Kau menunjukkan kasihMu lewat kesakitan akan cinta yang salah, yang tak sesuai dengan kriteria cinta positif seperti yang kau siratkan dalam firman-Mu.

Aku ingin bertahan dalam segenap pemahaman tentang cinta yang sesungguhnya, bahwa cinta yang benar adalah yang menggerakkan hatiku untuk mendekati-Mu, bukan sebaliknya. Cinta yang benar adalah cinta yang meningkatkan kecintaanku pada-Mu, bukan justru membuatku semakin menjauhi-Mu.

Kenangan Bersama Ayah (Part 2)

“Ayah, aku dapat peringkat sepuluh.”

Aku berteriak lantang seraya berlari-lari menghampiri ayah yang sedang duduk di teras rumah siang hari itu. Sambil tersengal, aku menyodorkan buku rapot yang baru saja kuterima dari guruku di sekolah. Aku memperhatikan ayah yang mulai membuka halaman buku rapot tersebut. Rasa bangga dan bahagiaku tak bisa kusembunyikan, sementara ayah hanya menatap datar.

“Yaah, peringkat sepuluh saja kok bangga.”

Deg. Aku merasa seperti salah mendengar, tapi jelas di telingaku apa yang baru saja ayah katakan sebagai komentar dari nilai rapotku.

“Tapi kan ini sepuluh besar, yah. Dari empat puluh siswa dan aku sebelumnya tidak dapat peringkat.

“Ayah baru akan bangga jika kamu bisa dapat peringkat satu.” Sembari mengembalikan buku rapot kepadaku, ayah berujar kemudian berlalu.

Aku tertegun. Ada rasa sedih yang menjalari sendi-sendi hatiku. Aku hampir saja menangis jika ibu tidak mendatangiku dengan senyumnya yang menenangkan.


“Tidak apa-apa. Jangan sedih, Nak. Belajar lebih giat lagi, ya.” Dengan senyumnya, ibu menyemangatiku.

Episode kehidupan ini tak pernah sekalipun kulupakan. Sejak saat itu, di usia yang baru menjelang 9 tahun, dengan jiwa kelas tiga SD, aku bertekad untuk jadi yang terbaik. Belajar sekeras mungkin untuk membuktikan pada ayah bahwa aku bisa mencapai peringkat satu.

Saat itu, yang aku fikirkan hanya bagaimana aku bisa mendapat peringkat satu supaya ayah bangga dan tersenyum menatap rapotku. Aku tak pernah berfikir apa esensinya dari nilai rapot tersebut. 

Meski hingga kelas enam SD saat kelulusan, yang mampu aku raih hanya peringkat enam. “Tak apa, aku masih punya kesempatan di SMP.” Ujarku pada diri sendiri untuk menyemangati.

Sampai hingga suatu hari, saat pembagian rapot pertama di jenjang SMP aku berhasil mendapat peringkat satu. Aku menunjukkan pada ayah, kali ini ayah pasti akan memelukku bangga dan tersenyum.

Saat ayah melihat rapotku, ayah tersenyum. Tapi, ayah tidak berkata apa-apa selain, “Jangan mudah merasa puas, coba kita lihat sejauh mana kamu akan bertahan dengan peringkat itu.”

Sedih? Ya, tapi sedihnya tidak sesedih saat aku kelas tiga SD. Aku kembali tidak menyerah. Aku akan buktikan pada ayah bahwa aku bisa mempertahankan peringkat ini.

Singkat cerita, hingga dua tahun lamanya yaitu saat aku duduk di kelas tiga SMP, aku selalu menduduki peringkat satu. Ada rasa puas yang menyelinap dalam diriku, peringkat ini aku dapat dengan belajar sungguh-sungguh dan tekun. Seringkali aku mengerjakan tugas hingga malam hari, menghafal materi pelajaran sekolah yang aku dapat dari guru. Selain untuk mempertahankan peringkat, aku juga mempertahankan beasiswaku.

Sampai suatu hari, saat pembagian rapot pertama di kelas tiga, nilai rapotku turun. Peringkat dua.
Aku takut-takut ingin menunjukkan rapotku pada ayah. Aku ingat apa yang ayah katakan kemarin-kemarin tentang mempertahankan nilai rapot. Apa kata ayah nanti kalau tahu sekarang peringkatku turun? Itu saja yang ada dalam benakku.

Hingga beberapa hari kemudian, aku sedang duduk membaca buku di ruang tamu saat ayah menghampiriku.

“Jadi, siapa yang merebut peringkat satu kebanggaanmu itu, Na?” Ayah bertanya setengah tertawa.

Aku antara sebal dan berusaha untuk tegar, berusaha tersenyum.
“Tak apa, ayah. Cuma peringkat aja kok. Ilmunya kan tetap bermanfaat buat aku. Yang penting aku sudah berusaha belajar dengan tekun dan jujur dalam menjawab soal-soal ujian.” Kalimat ini asal saja keluar dari bibirku. Sebentuk pembelaan dan hiburan supaya ayah tidak menangkap rasa sedih dan kecewa di hatiku.

“Nah, gitu dong. Ini baru anak kebanggaan ayah. Ayah percaya, lambat laun kamu akan mengerti tentang teori sederhana ini. Bahwa tak selamanya, segala jerih payah kita dibuktikan dengan nilai. Apa artinya nilai tertinggi jika tidak ada pemahaman baik yang bisa kau ambil darinya.”

Sejujurnya aku sendiri tak menyangka atas apa yang aku katakan pada ayah, dan lebih tak menyangka lagi dengan perkataan ayah selanjutnya. Jadi, ayah bangga nilaiku turun? Setelah sekian lama aku belajar dengan tekun demi mendapatkan peringkat satu yang kuharap akan membuat ayah bangga, justru hal tersebut aku dapatkan saat peringkatku turun? Aku sungguh tak mengerti jika saja kemudian ayah tidak mengisahkan sebuah kisah yang akhirnya membuatku mengangguk paham tentang yang ayah katakan sebagai teori sederhana ini. Teori sederhana yang maknanya tidak sesederhana itu. Teori yang hingga saat ini kuyakini sebagai pegangan hidup di manapun aku menjalani aktivitasku sebagai manusia yang sejak lahir ditakdirkan untuk berkompetisi.

Kisahnya akan aku tuliskan di catatan bersambung Kenangan Bersama Ayah Part 3 besok hari. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...