Sabtu, 15 April 2017

Kasih Putih Satira - Bagian 2

Suasana pagi hari di desa selalu berhasil membangkitkan kenangan masa kecil Satira. Suara anak-anak kecil bermain di luar rumah, kicau burung di udara dan hiruk pikuk penduduk dengan aktivitasnya. Satira tengah bersiap pergi ke pasar desa, rutinitas yang menyenangkan bagi Satira karena di pasar, dia bisa menemukan hal-hal yang unik, makanan yang sulit dicari di kota. Dengan berjalan kaki, Satira dan Uwak Ina pergi ke pasar dengan menjinjing keranjang belanja.
   “Sekarang, pasar desa sudah banyak perkembangan ya, Wak”
   “Iya, mulai banyak dibenahi. Tapi, tetap saja penuh. Karena setiap hari banyak saja yang datang di jam-jam yang sama. Karena kalau kesiangan sedikit, pasti kehabisan bahan masakan.”
   “Satira, dengar-dengar Elang mau menikah?”
   Satira hampir saja terpeleset mendengar nama itu disebut oleh Uwaknya. Menikah? Elang menikah? Satira membenak sendiri.
   “Aku belum dengar kabar itu, Wak. Sudah lama juga aku tidak mendengar soal Elang” Satira berusaha bersikap setenang mungkin meski jauh di dalam hatinya, ia sangat penasaran dengan kabar itu. Apa benar Elang akan menikah?
   “Uwak juga baru dengar dari gosip-gosip remaja di sini, sih. Biasalah, penggemar Elang itu.”
   “Hahahahaha, Uwak bisa saja. Elang lebih tenar dari artis Korea sih ya di sini.”
   Tawa itu terasa pahit. Percakapan sepulang dari pasar pagi itu menempel di benak Satira hingga beberapa waktu, membuat resah dan pikiran terbang ke awang-awang. Berapa lama ia mengabaikan segala kabar tentang Elang? Kini, ia mendengar Elang akan menikah. Meski kabar itu masih  level kalangan teman-teman remaja di desanya, namun tetap saja Satira terfikir sedalam-dalamnya.
   Elang. Sudah berapa lama sejak saat itu, ya?

                                                               ***

Agustus 2010, 7 tahun yang lalu.
   Matahari pagi belum sepenuhnya muncul di permukaan langit. Adzan subuh baru saja berkumandang namun keriuhan di sebuah rumah di pinggiran desa saat itu sudah terjadi bahkan sejak dua malam belakangan. Di kediaman Uwak telah berkumpul seluruh anggota keluarga. Hari itu, Mas Seno, sepupu tertua Satira akan melangsungkan pernikahannya. Tak terkira kebahagiaan bercampur haru menyelimuti langit-langit rumah. Segala persiapan mulai dari dekorasi, masakan untuk para tamu, hisasan pelaminan dan berbagai keperluan hari pernikahan telah disiapkan dengan matang. Satira sedang duduk bersama dengan Mbak Ita, calon pengantin wanita yang sedang duduk dibangku rias sambil duduk menuruti perintah tukang riasnya.
“Dek, Tira. Mbak Ita bisa minta tolong sama kamu, ndak?”
Mbak Ita yang sedang dirias wajahnya dengan riasan pengangtin itu, tiba-tiba saja berbicara padaku yang sedang asyik memperhatikan wajah ayunya dibalut make up pengantin.
“Oh iya, Mbak Ita. Ada apa, Mbak?”
“Tolong telepon ke temannya Mas Seno. Namanya Elang, dia katanya mau datang dari Jakarta. Mbak nitip souvenir ke dia, coba tolong tanyakan apa dia sudah datang dari Jakarta?”
Aku merasa tidak asing dengan nama itu. Seingatku, Mas Seno pernah beberapa kali menyebut nama Elang saat berbincang denganku setiap kali aku dan Mas Seno curhat-curhatan.
“Elang yang rumahnya nggak jauh dari sini itu kan, Mbak?” Aku bertanya memastikan, iseng.
“Iya, kamu kenal ya dek?”
“Eh, enggak sih Mbak. Cuma pernah dengar namanya saja.”
“Wah, kalau gitu nanti Mbak kenalin, ya. Dia manis, lho. Jomblo pula.” Mbak Ita berseloroh sambil meledek Satira yang bengong tiba-tiba.
“Opo toh, Mbak Ita ini. Mentang-mentang aku jomblo, main kenal-kenalin aja. Nanti kalau baper beneran gimana hayoo..”
“Lhoo, kamu kok serius. Mbak kan Cuma bercanda.” Mbak Ita tertawa terbahak semakin senang karena berhasil meledek Satira yang kini garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
“Ehem. Jangan banyak gerak dulu toh Yayu pengantin, nanti riasanmu berantakan lagi ini.” Mbak Ani  perias pengantin yang sedang sibuk dengan pekerjaannya ikut berseloroh megingatkan Mbak Ita untuk tidak terlalu banyak bercanda selagi dirias.
Selanjutnya Satira yang tertawa terbahak, “Mbak Ita bandel, mau jadi pengantin masih ngeledek aja.”
Mbak Ita mendelik ke arah Satira, sambil mengisyaratkan “jadi mau nolongin aku buat nelepon Elang atau terus mau ngetawain, dek?”
‘Iya, iya. Aku telepon Elang sekarang yaa, Mbak pengantinku.”
Satira beringsut mengambil handphone Mas Seno yang tergeletak di atas meja rias di hadapan Mbak Ita. Sambil duduk di depan jendela kamar pengantin itu, Satira mencari-cari nomor kontak Elang di handphone yang sedang digenggamnya.
Manusia Elang.
Satira tertawa sembari berujar dalam hati. “Ini orang namanya aneh banget. Memangnya dia seganas burung Elang?” Satira bergidik. Jangan-jangan, dia juga bukan pemakan nasi.
“...Aku slalu bernyanyi
Lagu yang engkau ciptakan
Kau nyanyikan...”

“...Kau jadi inspirasiku..
Semangat hidup
Di kala aku sedih, di kala aku senang
Saat sendiri dan ke..”

“Hallooow, siapa ini? Kalau mau nyanyi, jangan sambil nelepon. Berisik!!”
            Satira terkejut mendengar suara di seberang telepon. Sambil menepuk keningnya, ia baru tersadar sejak tadi larut ikut menyanyikan lagu yang ada di nada sambung nomor telepon yang dihubunginya.
            “Emm. Maaf salah sambung.”
            Tuut...tuut. Satira bergegas mematikan sambungan telepon dengan masih berdiri terpaku menahan rasa malu. Sementara di depan meja rias, Mbak Ita tertawa terbahak memperhatikan Satira yang salah tingkah, sejurus kemudia Mbak Ani perias wajah ikut terpingkal. Kali ini tidak ada larangan tertawa karena tugas meriasnya sudah selesai.
            Mbak Ita nampak anggun dengan balutan busana pengantin yang kini sudah terpasang sempurna. Masih tersenyum menatap Satira yang tertegun di hadapannya.
            “Mbak Ita cantik bangeet..ini beneran Mbak Ita?”
            “Memangnya kamu fikir siapaa, dek?”
            “Eh, Mbak. Terus gimana soal souvenirnya. Maaf ya, aku tadi malu. Jadi kututup teleponnya sebelum nanya ke teman Mas Senomu itu.”
            “Hahaha. Iya dek, ndak apa-apa. Tadi kamu asyik nyanyi, sampai ndak sadar Mas Seno masuk ke kamar ini dan ngasih tau Mbak kalau Elang sudah ada di depan membawa souvenir pesananku.”
            “Oh. Hehehe. Masa sih, Mbak. Aku jadi malu.”

            Satira menyeringai malu.


*bersambung
#30DWCJilid5 #Day3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir di blog aku dan membaca tulisan-tulisanku......Silakan tinggalkan jejak kamu di kotak komentar di bawah ini ya..........

*Salam Blogger :-)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...